Penutup Kepala yang Tak Dapat Diukur Dengan Jangka

Sebagai perempuan berkerudung tentunya saya punya banyak keluh kesah dalam dunia perkerudungan. Salah satunya adalah lancip atau tidaknya kerudung yang saya pakai. Hal itu sering membuat saya resah, mungkin juga perempuan-perempuan lainnya.

Hingga akhirnya saya mendapat berbagai referensi cara supaya kerudung kami tetap lancip. Yang pertama dengan meniup bagian atas kerudung. Cara ini kadang berhasil, tetapi tidak jarang gagal. Bahkan hasilnya bisa mleyot tidak sesuai harapan. Tetapi untuk mbak-mbak di luar sana yang sudah legend dalam dunia perkerudungan, dapat dipastikan sudah fasih dalam hal ini.

Cara yang kedua yaitu menggunakan setrika uap. Menurut saya, agak sedikit susah untuk menemukan setrika uap di habitat saya saat ini. Kebanyakan masih menggunakan setrika gosok. Seperti yang dikatakan si pengguna setrika uap, cara seperti ini sedikit manjur untuk melancipkan si kerudung.

Dan cara yang terakhir berasal dari saya sendiri. Yaitu dengan bersikap bodo amat walau kerudungmu tidak lancip. Ya, itulah cara yang menurut saya sangat ampuh untuk kami dalam mengarungi dunia perkerudungan. Dan sebagai mana perempuan lainnya, saya juga memiliki rasa perfeksionis yang cukup tinggi. Tetapi saya mencoba untuk bersikap luweh apabila kerudung yang saya pakai sudah jauh dari kata paripurna. Toh juga orang lain tidak akan berkomentar “kerudungmu kok gak lancip?”.

Iklan

Satu.

Hai.

Kali ini aku datang kembali. Membawa sebuah cerita yang bisa jadi terdengar remeh-temeh. Aku sangat berterimakasih jika kalian mau membacanya hingga selesai. Aku akan menceritakan tentang “seseorang” yang akhirnya datang lagi padaku setelah menghilang sekian lama. Orang yang selalu bertanya bagaimana keadaanku, meskipun aku tau sebenarnya dia hanya berbasa-basi. Dia yang selalu mengajakku keluar malam hanya untuk menjadi pedengar setia keluh-kesahnya. Dia yang tiba-tiba hilang entah kemana saat aku menemukan apa itu artinya rasa.

Baik, akan kumulai cerita ini.

Aku lebih senang memanggilnya dengan nama panda, karena tubuhnya sedikit mirip dengan hewan pemakan daun bambu itu. Tanggal duapuluhdua nanti, usianya tepat 24 tahun. Selisih sedikit denganku yang berusia 18 tahun.

Panda tinggal tak jauh dari rumahku, mungkin sekitar 500 meter. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya perempuan. Hingga saat ini pun aku tidak tau persis dimana ia tinggal. Aku hanya mengetahui kalau kami tinggal berdekatan.

Aku mengenalnya tahun 2012 lalu, tepat sehari sebelum hari raya Idul Adha. Tempat pertemuan kami pun tak terlalu spesial, hanya perempatan jalan. Saat itu dia sedang bertugas. Dan aku pun hanya memantaunya dari kejauhan. Ralat. Aku bukan mengenalnya, melainkan mengamatinya. Yap, enam tahun lalu disaat orang-orang sedang berlalu lalang bertakbir menyebut nama-Nya.

Entah apa yang membuat aku tertarik padanya. Ketika itu ia tampak biasa saja. Jujur, ia tak memiliki paras yang tampan.

Setelah malam itu, aku mulai mencari tau siapa dirinya. Siapa namanya. Sekolah dimana. Tinggal dimana. Semuanya ku cari. Hingga aku menemukan sebuah nama. Pertama kali yang melintas di benakku saat aku melihat namanya “aneh”. Kalian mungkin akan berpikir jika itu adalah nama perempuan. Tapi kenyataannya dia adalah laki-laki. Salah. Lebih tepatnya bocah laki-laki.

Hingga pada akhirnya aku mendapatkan nomor teleponnya. Pada waktu itu belum ada aplikasi yang bernama Whatsapp, Line, BBM, dan yang lainnya. Aku hanya menyapanya melalui SMS. Tak kusangka, ia mau menanggapi pesanku.

Waktu terus berjalan hingga saat ini. Bulan Desember kemarin, tepat enam tahun aku mengenalnya. Sama seperti air laut, pertemanan kami mengalami pasang surut. Jika kalian berpikir kami pernah lebih dari teman, kalian salah besar. Dia menganggapku sepertinya adiknya. Namun nyatanya tidak, aku telah menaruh rasa padanya. Tenang, aku tak akan berharap lebih padanya. Aku tau kami tetap punya jarak, meskipun aku merasa kami telah sedekat nadi. Dia kerap memperlakukanku selayaknya kekasih di luaran sana. Kalau kalian bertanya apakah aku senang dengan sikapnya yang seperti itu, jawabannya adalah ya. Aku bahagia dia berlaku seperti itu.

Tetapi, satu hal yang kalian tak tahu.

“Semuanya semu”

Four hours

Teruntuk kamu yang sedang tidak baik-baik saja, pesan ini kami buat sembari menyemogakan keadaanmu kembali seperti semula— bahkan mungkin lebih indah dari sebelumnya.

I.
Tersenyumlah, dunia berhak mendapatkan manisnya lengkungan indah di bibirmu itu. Ibuku pernah berkata kalau senyum bisa meringankan setiap beban yang ada— tidak peduli meski itu palsu sekalipun.

Maka, tolong sertakan senyum itu di setiap masalah yang datang dengan usaha merusak bahagia yang kamu punya.

Percayalah, tidak hanya harimu yang akan kembali indah— tetapi juga hari banyak orang di luar sana.

II.
Aku yakin, kamu adalah orang yang kuat dan tangguh. Tidak mudah menyerah begitu saja meski masalah itu menghujanimu hingga babak belur.

Pun berulang kali dirimu seperti dilempari kerikil kecil yang membuatmu meringis kesakitan.

Tak jarang juga aku melihatmu dengan wajah sembab dan lingkaran hitam di bawah netra hasil dari menangis semalaman.

Aku paham jika kamu lelah. Jika kamu ingin menangis, menangislah. Mungkin itu akan sedikit mengurangi bebanmu.

Atau—kemarilah, kamu bisa menangis sepuasnya di bahuku. Aku tahu bahu ini tidak terlalu empuk untuk dijadikan sandaran. Namun setidaknya, aku bisa membuatmu merasa hangat, nyaman— dan tentunya tidak sendirian.

III.
Sisihkan sedikit waktu yang ada untuk dirimu sendiri. Tidak apa jika kamu butuh ruang untuk menyendiri.

Kamu bisa gunakan waktu itu untuk melupakan sejenak beban yang kamu punya, atau sekadar menenangkan hati yang sedang risau akan dunia.

Mungkin kamu bisa berjalan di sore hari sembari melihat pemandangan sekitar. Kamu juga bisa meminum kopi sembari menuliskan keluh kesahmu pada secarik kertas putih. Apapun itu, lakukanlah.

Lakukan hal baik untukmu agar dapat membuat dirimu menjadi lebih tenang.

IV.
Teruntuk kamu yang masih bisa kudeteksi keberadaannya, dengan pandang yang bisa kunikmati ke mana netramu menerawang.

Teruntuk kamu yang kalau tertawa mengundang gelak lainnya, dimana orang sering mengucap sosokmu tidak waras namun bagiku kamulah panutan dari setiap karya yang kupunya.

Teruntuk kamu yang menjadi bahan cibiran serta kejahilan teman-teman, yang diam-diam berlari ke pojok sekolah kemudian meraung kesakitan.

Aku ingin memberitahumu beberapa hal untuk kamu simpan dalam ingatan.

Terima kasih karena sudah terlahir di dunia kemudian bertumbuh dengan luar biasa.

Terima kasih karena sudah berani melawan kekurangan yang ada dengan menjadikannya sebagai kekuatan untuk melawan kerasnya takdir semesta.

Terima kasih karena sudah selalu tegar meskipun kamu sering digencar.

Terima kasih banyak, karena kamu tetap menjadi kamu.

Aku sungguh sangat menyayangimu.

—lunatictwister x a.a.d x pis(c)es x jasminetales

#AksaraSelepasSenja
#12LettresAA
#dsspis
#jasminefragrance

9996 #2

Setiap manusia berubah.

Yang baik bisa jadi jahat, yang jahat bisa makin jahat, yang luar biasa jahat bisa jadi baik.
Yang berjanji untuk tetap ada bisa meninggalkan begitu saja.
Yang berjanji untuk tetap tinggal bisa tanggal.
Yang berjanji sehidup semati bisa pergi.

Semoga selalu bisa menilai perilaku bukan menilai orang, membenci perbuatan bukan siapa yang melakukan. Tidak bosan mengingatkan, tidak sungkan melawan yang tidak benar meski sebelumnya kawan.

Semoga lembut tidak terenggut.
Semoga sadar tidak memudar.

—9996
#9996Series

Wanita tangguh dari KOTA BENTENG

Aku tidak akan menyebutkan siapa dia. Yang pasti, dia cukup memporakporandakan pikiranku. Bagaimana tidak? Sudah berapa banyak pengalaman yang bertengger di pundaknya? Itu semua cukup untuk membuat mulut ini tak bisa berkata kata. Wanita yang lebih tua sepuluh tahun dariku ini lahir di Kota Benteng. Yang jelas itu bukan nama sebuah kota. Wanita yang terlahir pertama dari sebuah keluarga harmonis. Memiliki tiga adik bukan perkara gampang untuknya. Sebagai wanita yang bergelar anak sulung, tentunya dia memiliki beban paling berat.

Setelah menyelesaikan masa putih abu abu nya, dia memilih untuk menjadi bocah rantau. Dari Kota Benteng berpindah lah ia ke Kota Gudeg. Disini dia bukan ingin makan gudeg, tetapi menyerap ilmu yang dihembuskan oleh si berhati nyaman. Menjadi salah satu mahasiswa kampus kerakyatan adalah salah satu dari sekian banyak kebanggaan yang ia ciptakan.

-SASTRA ARAB-

Apa yang ada di benak kalian tentang sastra arab? Entahlah. Aku juga tidak tahumenahu tentang sastra. Aku yakin, jika aku melontarkan kalimat “Kayfa haaluki?” tentunya dia akan menjawab dengan “Bi khoirin walhamdulillah”

Setelah bertahtakan gelar sarjana sastra, mulailah ia untuk mencari rupiah. Apapun pekerjaan telah ia lalui, mulai dari menulis artikel hingga mengarang novel. Sampai pada suatu hari ia memutuskan untuk “bersekolah lagi”. Dan kampus kerakyatan pun masih dalam genggamannya.

Tak hanya mengejar gelar master, tetapi ia juga mengabdikan jiwa dan raga nya pada persyarikatan. Terhitung sudah dua tahun ia berbakti pada persyarikatan yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan. Kesana kemari membantu sesama, tak mengenal apa itu lelah. Yang lebih kerennya lagi, ia pernah menginjakkan kaki di Raja Ampat tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. How lucky she is😍

Semua itu ia dapatkan dari hasil mengabdi kepada persyarikatan. Dari kota Bima, Palangkaraya, Bali, Bandung, dan entah mana lagi yang sudah ia sambangi. Jujur, aku iri dengan semua yang ia lakukan. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri ” Apa yang sudah ku berikan pada negri ini?” “Apakah aku mampu menjadi seperti dia?”

Mungkin kalian merasa bingung, kenapa aku mau menceritakan kisahnya disini. Dia mengenali ku saja tidak. Kenapa aku susah payah menuliskan tentangnya disini. Jawabannya cuma satu, karena laki laki penyimpan lemak itu lah yang membuatku seberani ini. Yap. Wanita itu adalah sahabat dari “laki-lakiku”. Laki-laki ku itu selalu menceritakan kisahnya dengan wanita kota Banteng. Apakah ada rasa terbakar di hati? Tentu tidak😳 Aku menganggap mereka berdua adalah salah satu dari sekian banyak faktor yang membuat ku hidup. Aku akan selalu bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukanku dengan orang orang hebat seperti si Wanita itu. Aku pun menanti kapan waktunya aku bisa dipertemukan dengan wanita tangguh itu. Semoga terlaksana ya!

“Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.” -Tan Malaka

9996 #1

Akan tiba masanya saat kamu menemukan seseorang yang rela melakukan segalanya hanya untuk membuatmu merasa baik-baik saja.

Hanya saja beberapa dari mereka tidak ditakdirkan untuk selamanya. Mereka juga manusia, lelah menjadi penyangga, memutuskan pergi dan tak kembali. Meninggalkan dirimu yang makin merasa tidak berguna.

Tak baik menggantungkan seluruh bahagia pada raga berbeda, sebab pada akhirnya hanya kau dan dirimu sendiri yang tersisa.

—9996
#9996Series